Kutatv.Com || Denpasar. Buku Seabad Relokasi Batur (Mahima Institute Indonesia, 2025) didiskusikan dalam acara Diskusi Buku Program Beranda Pustaka Festival Seni Bali Jani (FSBJ) 2026 di Taman Budaya Bali, Denpasar, 24 Juli 2026. Diskusi berlangsung hangat, ditandai dengan respons peserta yang begitu tinggi terhadap diskusi.
Pembedah buku tersebut, Heri Purwanto, S.S., M.Ag, seorang dosen Universitas Hindu Negeri I Gusti Bagus Sugriwa. Menurutnya, buku yang disusun secara swadaya oleh komunitas Lingkar Studi Batur memberi gambaran tentang bagaimana upaya masyarakat Batur, khususnya kalangan muda merawat ingatan kolektif. “Buku ini mengajak kita menyelami lorong waktu sejarah dengan memahami kebudayaan Batur dari masa lalu, membaca keadaan saat ini, dan berefleksi untuk masa depan. Buku ini adalah sebuah wadah tentang bagaimana ingatan kolektif Batur dijaga, khususnya berkaitan dengan peristiwa sejarah Rarud Batur, yakni pengungsian akibat letusan Gunung Batur tahun 1926. Buku ini bisa jadi catatan historiografi yang penting untuk memahami peristiwa itu,” katanya.
Menurutnya ada tiga hal yang ingin disyaratkan dalam buku tersebut, yang berkaitan dengan resiliensi masyarakat Batur terhadap kebertahan, adaptasi, serta kekhawatiran.
“Kebertahan itu terkait dari bagaimana masyarakat Batur bertahan setelah relokasi. Adaptasi memuat tentang bagaimana kehidupan sosial budaya kemudian diadaptasi oleh masyarakat yang hidup di ruang baru. Sementara itu, kekhawatiran terhadap Batur ini tercermin pada tulisan-tulisan yang menyuarakan masa depan Batur seperti ancaman degradasi lingkungan, potensi pemanfaatan ruang, hilangnya nilai-nilai dan warisan budaya. Dalam penyajiam tema-tema ini, editor sangat baik meramunya, sehingga wacana dari para penulis yang berasal dari kalangan lokal, nasional, dan internasional itu bisa terhubung,” katanya.
Namun, ia mengkritisi sejumlah hal yang belum tampak pada buki tersebut. Salah satunya berkaitan dengan aspek teologi Batur. “Buku ini tak menyentuh aspek teologis, padahal kita tahu masyarakat Batur dengan agama itu sangat erat. Mereka percaya atas Gunung Batur. Gunung Batur tidak bisa dipisahkan, Dewi Danuh, hubungan masyrakat dan danau. Ini yang belum tampak pada buku ini,” kata dia.
Menurutnya ke depan perlu ada kerja akademik yang mengarah pada studi teologi Batur. Batur dengan teologi gunung dan kehadiran dewa-dewa lokal diyakini terkait dengan konsep agama masa lalu Nusantara, misalnya konsep Parwata Rajadewa.
“Teologi Nusantara dahulu memang mengenal istilah dewa-dewa lokal baik sebagai Grama Dewata yang melingkupi dewa tingkat desa, Kula Dewata yang berkaitan dengan garis keturunan, serta Parwata Rajadewa yang berkaitan dengan pemujaan terhadap gunung. Contohnya di Jawa, misalnya di Gunung Lawu dikenal sebagai Hyang Girinata atau yang kini disebut Hyang Lawu atau Sunan Lawu. Di [Gunung] Kelud ada Hyang Acalapati, yang terurai dalam Negarakretagama. Di Gunung Penanggungan atau arkaisnya disebut Pawitra dikenal dewa Sri Parwatarajadewa. Saya kira di Batur pun kemudian muncul, misalnya yang juga ditulis dalam buku sebagai Ida Ratu Madue Gumi dan Dewi Danuh,” katanya.
Penyunting buku, Jero Penyarikan Duuran Batur [I K. Eriadi Ariana] menjelaskan buku ini sebagai karya bersama yang menghimpun 32 tulisan. Ia menjelaskan buku ini memang diupayakan sebagai ruang menjaga ingatan kolektif. “Awalnya memang diupayakan sebagai ruang mencatat Batur, dengan berefleksi pada peristiwa 100 tahun Rarud Batur itu. Setelah tulisan terkumpul, kami pun kaget ketika banyak data yang muncul. Data-data yang dikumpulkan oleh penulis yang tidak saja dari Batur, tetapi juga beberapa desa yang terkait Batur, para intelektual nasional, hingga peneliti dari luar negeri. Semoga kehadiran buku ini dapat memberikan inspirasi untuk kajian Batur selanjutnya,” katanya.


