Kutatv.com || Mangupura. Pemilet dan krama desa memadati Bale Peyadnyan pada Kamis (10/ 9/2026) untuk mengikuti prosesi ngajum sekah, rangkaian dari upacara Atiwa Tiwa Atma Wedana (Pitra Yadnya) di Desa Adat Kuta, Badung.
Pemilet dengan bantuan para pemangku kahyangan tiga, ngajum sekah yang dimulai sejak pagi hari.
Para pemangku dengan telaten dan seksama, ngajum sekah sesuai dengan pakem dan kreasi seni masing masing,
Sekah dalam upacara atiwa – tiwa atma wedana merupakan bagian penting dari simbol sang atma. Di masing masing sekah, akan ada prerai, dengan wujud purusa dan predana (laki – laki dan perempuan).
Ida Pandita Mpu Nabhe Jaya Wijayananda, menjelaskan bahwa esensi dari Ngajum Sekah yakni menghias puspa lingga, dari Sanghyang Arma.
“Agar lingga itu kelihatan cantic, dimana agama Hindu di Bali tidak pernah lepas dari budaya. Tanpa dihias tidak apa – apa sebenarnya, namun seni budayanya tidak kelihatan jadinya,”jelas Ida Pandita.
Ida Panita menambahkan, dalam ngajum sekah ini, wajib menggunakan bunga medori putih, ratna putih.
“yang boleh dipake bunga yang berwarna putih semuanya. Tidak boleh memakai bunga di luar berwarna putih / kuning, dan nanti juga ada daun beringin. Untuk peremupuan ada yang memakai jumlah daun 54 lembar, ada juga yang memakai 63 lembar, sedangkan yang laki – laki ada yang memakai 66 lembar, jumlahnya kelipaan 9,” ungkap Ida Pandita.
Nantinya, seluruh Sekah atau puspa lingga yang dibuat, akan mellaui prosesi upacara seperti mepetik, mepasupati, dan mepurwa daksina.


