Padi Mansur Gianyar Dilirik Jepang, Waseda University dan Dwijendra Perkuat Beras Lokal Bali

Kutatv.Com || 𝗚𝗶𝗮𝗻𝘆𝗮𝗿 – Pengembangan beras lokal Bali terus diperkuat melalui kerja sama internasional antara Waseda University dan Dwijendra University dalam proyek peningkatan pendapatan petani berbasis rantai nilai pangan partisipatif.

Program bertajuk “The Project for Increasing Income through Building Participatory Food Value Chain in Indonesia” tersebut didukung pendanaan dari Japan International Cooperation Agency (JICA).

Salah satu fokus proyek ini adalah pengembangan Padi Mansur, varietas padi lokal Bali yang telah lama dibudidayakan petani di Subak Timbul, Desa Pupuan, Kecamatan Tegallalang, Kabupaten Gianyar.
Padi Mansur tetap dipertahankan petani melalui sistem subak di tengah masifnya pengembangan varietas padi hibrida. Varietas lokal ini dinilai memiliki potensi besar untuk meningkatkan nilai tambah produk pertanian, terutama jika dikelola dengan praktik budidaya dan pascapanen yang lebih modern.

Sebagai bagian dari peninjauan berkala, kegiatan panen bersama Padi Mansur digelar di areal Subak Timbul pada Kamis, 11 Juni 2026.

Kegiatan tersebut dihadiri Konsul Jenderal Jepang di Denpasar, Miyakawa Katsutoshi, bersama perwakilan JICA Indonesia, Niwa Kenji. Mereka turut mengikuti proses panen, perontokan padi, hingga pengelolaan pascapanen.

Hadir pula tim Waseda University, Rektor Dwijendra University Gede Sedana, Wakil Rektor I dan Wakil Rektor II Dwijendra University, Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Gianyar, Kepala Badan Riset dan Inovasi Daerah Gianyar, serta Tim Komunikasi Gubernur Bali sekaligus Pokja Penanganan Kerusakan Ekosistem, I Putu Eka Mahardhika, S.IP., M.AP.

Pekaseh Subak Timbul, I Ketut Supatya, mengatakan proyek kerja sama Waseda University dan Dwijendra University melalui dukungan JICA telah memberikan manfaat nyata bagi petani.

Menurut dia, pendapatan petani meningkat karena beras yang dijual setelah melalui proses pascapanen, pengolahan, pengemasan, dan branding memiliki harga lebih tinggi dibandingkan sebelum proyek berjalan.

“Peningkatan pendapatan terjadi karena harga beras yang dijual setelah melalui proses pascapanen, pengolahan, kemasan, dan branding menjadi lebih tinggi,” kata Supatya.

Ia menjelaskan, Waseda University juga memfasilitasi bantuan mesin pengolahan atau penggilingan padi menjadi beras, serta mesin kemasan vakum dalam berbagai ukuran.

Selain bantuan peralatan, petani juga mendapat pelatihan mengenai pengoperasian dan pemeliharaan mesin, penguatan organisasi, manajemen, serta aspek agribisnis. Pelatihan tersebut diarahkan untuk memperkuat rantai nilai Beras Mansur melalui Komunitas Timbul Harmoni.

Sementara itu, Konsul Jenderal Jepang di Denpasar, Miyakawa Katsutoshi, menyampaikan apresiasi kepada petani Subak Timbul yang aktif berpartisipasi dalam proyek kerja sama tersebut.

Ia berharap program ini dapat terus mendorong peningkatan produktivitas, kualitas Padi Mansur, serta pengelolaan pascapanen agar berdampak langsung pada peningkatan pendapatan petani.

Dalam diskusi seusai panen bersama, Rektor Dwijendra University, Gede Sedana, menyampaikan bahwa Padi Mansur sebagai varietas lokal Bali memiliki potensi besar untuk terus dikembangkan di kawasan Subak Timbul.

Menurut Sedana, kondisi agroklimat di wilayah tersebut sangat mendukung pengembangan Padi Mansur, terutama jika diarahkan pada sistem budidaya organik.

“Beras Mansur yang dibudidayakan secara organik dapat meningkatkan nilai tambah produk melalui perbaikan Good Agricultural Practices dan Good Processing Practices,” ujar Sedana.

Ia menambahkan, pengembangan Padi Mansur juga menjadi bagian dari upaya mempertahankan plasma nutfah Bali. Upaya ini sejalan dengan dorongan Pemerintah Provinsi Bali dalam menjaga varietas lokal dan memperkuat sistem pertanian organik melalui regulasi daerah.

Sedana menilai, perluasan pasar menjadi langkah strategis agar Beras Mansur yang telah dikemas secara modern dapat diterima lebih luas, tidak hanya di Bali, tetapi juga berpeluang menembus pasar internasional.

Menurutnya, hilirisasi pertanian memerlukan kerja terintegrasi antara petani, perguruan tinggi, pemerintah, lembaga riset, dan pihak-pihak yang bergerak di bidang pengolahan serta pemasaran produk.

Ia juga mengingatkan pentingnya identitas lokal dalam branding produk. Salah satunya dengan menggunakan aksara Bali pada kemasan Beras Mansur sebagai ciri khas sekaligus penguatan nilai budaya Bali.

“Branding Bali, termasuk penggunaan aksara Bali pada kemasan, penting untuk memperkuat identitas Beras Mansur sebagai produk lokal Bali,” kata Sedana.

Melalui proyek ini, Padi Mansur diharapkan tidak hanya bertahan sebagai varietas lokal, tetapi juga mampu menjadi produk beras unggulan Bali yang memiliki nilai ekonomi lebih tinggi bagi petani. (red)

Berita Terkait

Ricardo, Korban Banjir Bakti Seraga Ditemukan ...
Gladi Bersih PKB XLVIII, Taman Penasar ...
82 Ribu Kk Di Badung Terima Bantuan ...
Ketua DPRD Badung Hadiri Kenaikan Kelas ...