KutaTv.Com || Buleleng. Pada upacara Saba Ngelemekin (4/4/2026) bertepatan dengan Hari Saraswati, dengan melaksanakan upacara di Pelinggih Kemulan Pura Penyarikan Pura Desa Pedawa, Buleleng
Saba Ngelemekin, merupakan prosesi upacara suci dan sakral, oleh karena itu dipentaskan sejumlah kesenian sakral seperti Tari Baris Gede, Bulan Kepangan, Mepetokan, Nabuin, Rejang Akilukan, dan kesenian langka serta jarang dipentaskan yakni Tari Baris Dadap.
Tari Baris Dadap memiliki keunikan dan ciri khas, dari busana penari yang dikenakan ada kain gegringsingan, hiasan kepala yang terbuat dari bambu berhiasan bunga gumitir dengan terselip keris pada pundak setiap penari serta setiap penari membawa simbol senjata nawa sanga.

Kelian Desa Adat Pedawa, I Wayan Sudiastika menjelaskan bahwa tarian Baris Dadap merupakan sosok prajurit yang turun ke medan laga.”Tari Baris Dadap, hanya dipentaskan 5 tahun sekali, dan menggambarkan sosok prajurit yang turun ke medan perang. Diawali dengan tari Baris Dadap dibawakan seorang diri, menggambarkan sosok prajurit teluk sandi dalam menghimpun informasi akan keberadaan musuh”, jelas Wayan Sudiastika.
Penari Baris Dadap, Wahyu mengungkapkan bahwa sebelum pentas para penari akan terlebih dahulu berlatih gerak Baris Dadap, dan ketika sudah hapal akan dibawakan dengan iringan musik gambelan yang telah dipersiapkan.
“Saya sudah 2 kali, ikut pementasan tari Baris Dadap, kesulitan tarian ini yakni kita harus padu antara gerakan tari dengan gong gambelan”, kata Wahyu
Sebagai tari sakral, eksistensi Baris Dadap di Desa Bali Aga Pedawa, masih tetap di lestari sebagai warisan leluhur yang dipentaskan saat ada upacara tertentu di Desa Adat Pedawa.
Saba Ngelemekin, merupakan prosesi upacara suci dan sakral, oleh karena itu dipentaskan sejumlah kesenian sakral seperti Tari Baris Gede, Bulan Kepangan, Mepetokan, Nabuin, Rejang Akilukan, dan kesenian langka serta jarang dipentaskan yakni Tari Baris Dadap.
Tari Baris Dadap memiliki keunikan dan ciri khas, dari busana penari yang dikenakan ada kain gegringsingan, hiasan kepala yang terbuat dari bambu berhiasan bunga gumitir dengan terselip keris pada pundak setiap penari serta setiap penari membawa simbol senjata nawa sanga.
Kelian Desa Adat Pedawa, I Wayan Sudiastika menjelaskan bahwa tarian Baris Dadap merupakan sosok prajurit yang turun ke medan laga.
“Tari Baris Dadap, hanya dipentaskan 5 tahun sekali, dan menggambarkan sosok prajurit yang turun ke medan perang. Diawali dengan tari Baris Dadap dibawakan seorang diri, menggambarkan sosok prajurit teluk sandi dalam menghimpun informasi akan keberadaan musuh”, jelas Wayan Sudiastika.
Penari Baris Dadap, Wahyu mengungkapkan bahwa sebelum pentas para penari akan terlebih dahulu berlatih gerak Baris Dadap, dan ketika sudah hapal akan dibawakan dengan iringan musik gambelan yang telah dipersiapkan.
“Saya sudah 2 kali, ikut pementasan tari Baris Dadap, kesulitan tarian ini yakni kita harus padu antara gerakan tari dengan gong gambelan”, kata Wahyu
Sebagai tari sakral, eksistensi Baris Dadap di Desa Bali Aga Pedawa, masih tetap di lestari sebagai warisan leluhur yang dipentaskan saat ada upacara tertentu di Desa Adat Pedawa.( Jul/Ktv)


