Kutatv.com || Mangupura. Puluhan Daksina Linggih, berhiaskan warna warni bunga berjejer rapi di bawah Tsunami Selter Pantai Kuta, Badung.
Daksina Linggih sebagai simbol dari linggih dari Hyang Dewata Dewati, dibawa oleh para pemilet pada Jumat (18/ 9/ 2026) untuk mengikuti prosesi Nyegara Gunung, di Pantai Kuta.
Nyegara Gunung sendiri dipuput oleh Ida Mpu Nabhe Jaya Wijaya Nanda, yang juga sebagai Yajamana Karya, Atiwa – Tiwa Atma Wedana, dan Nyurud Ayu/ Mepandes massal Desa Adat Kuta.
Upacara nyegara gunung menjadi prosesi akhir dari rangaian panjang dari pelaksanaan ngaben massal, hingga atiwa tiwa dan mepandes massal yang digelar oleh Desa Adat Kuta selama hampir satu bulan sejak Agustus hingga September.
Dari penjelasan Ida Mpu, bahwa upacara Nyegara Gunung bukan dalam artian mencari segara dan gunung, namun sebagai akhir dari sebuah perjalanan yadnya, sehingga terciptanya Betara Anyar.
“Akhir dari sebuah perjalanan yadnya ada point atau tujuan yang ingin kita capai, dan terlahirnya betara anyar. Disatu sisi sebagai ungkapan terimakasih kepada semua pemuput karya, dan menyatukan purusa dan predana sehingga lahirnya dewata baru sehingga ada rangkaian upacara mendak dewata dewati,”jelas Ida Mpu.
Ida Mpu menambahkan gunung sebagai simbol purusa dan segara sebagai simbol predana, pada pertemuan ini akan tercipta kehidupan baru.
“Tidak harus mencari gunung atau ke segara, pertemuan Purusa dengan simbol gunung dan predana dengan simbol segara, akan melahirkan kehidupan baru, tidak boleh seperti yang dulu, “ungkap Ida Mpu
Sementara itu, Bendesa Adat Kuta I Komang Alit Ardana mengatakan kara Atiwa -Atiwa, nyurud ayu / mepandes sudah berjalan dengan baik dan lancer, hingga dapat diselesaikan pada saat ini oleh semua pemilet, panitia, prajuru desa dan masyarakat.
“Saya atas nama panitia karya, mohon maaf sebesar besarnya kepada seluruh warga adat, dan pada saat prosesi mamitang agar para pemilet untuk brhati hati di dalam melaksanakan prosesi upacara selanjutnya agar Daksina Linggih tersebut jatuh,”jelas Bendesa Alit Ardana.
Sebelum dilaksanakan Nyegara Gunung, Pemilet menghaturkan pekeling / pejati, di Pura Segara Desa Adat Kuta, untuk mengikuti prosesi upacara mamitang ang dipimpin oleh Pemangku Desa.
Nantinya seluruh Daksina Linggih tersebut akan distanakan di masing – masing pelinggih Kemulan di Mrajan ataupun Sanggah Keluarga
Hadir pada Nyegara Gunung ini, Camat Kuta, Sekcam Kuta, Pemedek dari warga Banjar Buni, WHDI, Santhi Desa, dan diiringi Gambelan Gong Jangkep dari Banjar Buni Kuta


