RATUSAN WARGA DESA ADAT KUTA MENGIKUTI PROSESI NGULAPIN DAN NEBUSIN DESA ADAT KUTA, UNTUK MEMOHON IJIN AGAR SANG ROH DIPERKENANKAN DISUCIKAN DALAM UPACARA ATIWA TIWA


Kutatv.Com || Mangupura. Ratusan warga Desa Adat Kuta, sejak pagi hari telah berdatangan ke tempat upacara ngulapin, yang dipusatkan di perempatan Pasar Seni pada Sabtu (8/8/2026) sebagai salah satu prosesi dari upacara Atiwa – Tiwa dan Atma Wedana massal Desa Adat Kuta, bertempat di Bale Pengorong, Pesisir Pantai Kuta, Desa Adat Kuta, Kecamatan Kuta, Kabupaten Badung.

Untuk upacara ngulapin di perempatan pasar seni merupakan ngulapin alit, khusus untuk pemilet yang mengikuti prosesi upacara ngelangkir dan warak keruron, sedangkan untuk pemilet yang mengikuti upacara ngaben melaksanakan upacara ngulapin di setra baik setra kangin, setra kauh dan setra bebajangan yang ada di Desa Adat Kuta.

Sebelum mulai upacara ngulapin ini, pemangku desa dengan warga pemedek dari Banjar Jaba Jero, terlebih dahulu menghaturka maturpiuning di Pura Dalem Kahyangan dan Penataran, Pura Prajapati, sedahan setra, catus pata yang di wilayah Desa Adat Kuta.

Dilanjutkan dengan prosesi nebusin di Pura Prajapati, dan upacara ngulapin alit dipimpin oleh Pemangku Kahyangan Tiga Desa Adat Kuta.
Seluruh pemiletpun mengikuti seluruh prosesi upacara nebusin dan ngulapin ini secara khusyuk. 

Bendesa Adat Kuta, I KomangAlit Ardana mengatakan bahwa upacara atiwa – tiwa diikuti oleh sekitar 90 sawa yakni terdiri dari pemilet warak keruron, ngelangkir dan ngaben. Untuk itu perlu didahului dengan upacara nebusin dan ngulapin terlebih dahulu. Tujuan dari upacara nebusin dan ngulapin ini untuk memangil Sang Atma (Roh) yang akan di warak keruron, Nelangkir dan Ngaben, sekaligus memohon ijin dan pada pemirsi kepada Penguasa Pemilik Roh, Sang Durga Maya Sakti, agar diperkenankan sang roh dipersucikan dalam atiwa tiwa dan atma wedana

“upacara ini untuk mohon ijin dan pemirsi kepada Sang Durga Maya Sakti, serta memangil Sang Roh untuk diperkenankan disucikan dalam upacara atiwa – tiwa dan atma wedana,”ujar Alit Ardana. 

Usai upacara ngulapin alit ini, maka sangga urip sebagai symbol dari sang roh yang mengikuti prosesi ngelangkir dan warak keruron, secara beriringan berjalan berbaris dari perempatan pasar seni kuta, menuju bale pengorong.

Sedangkan pemilet yang mengikuti upacara ngaben, usai prosesi ngulapin alit di Setra Kangin, Setra Kauh dan Setra Bebajangan, dilanjutkan dengan ngulapin ageng yag dipuput oleh Ida Pedanda Gede Oka Telabah dari Griya Telabah Kuta

Alunan gambelan angklung mengalun merdu dan kidung dari sekeha santhi, mengiringi prosesi upacara ngulapin ageng yang dilaksanakan di Setra Asem Celagi Desa Adat Kuta.

Seluruh pemilet ngabenpun mengikuti upacara ngulapin ageng dengan khusyuk.
Ada 10 Adegan yang mengikuti proses ngaben massal, dan kemudian masing masing adegan yang telah diupacarai tersebut ditempatkan di Bale Pengorong, yang menjadi pusat upacara Atiwa – tiwa dan Atma Wedana Desa Adat Kuta 2026.

Berita Terkait

Karya Atma Wedana Desa Adat Tuban ...
Gubernur Koster Dorong Atma Wedana Massal ...
Desa Adat Kuta Gelar Upacara Mesuddha ...
Bakti Pamlaspas Cihna Batur Let, Gubernur ...