Upacara “Nginsah” Merupakan rangkaian Prosesi Upacara Atiwa tiwa Desa Adat Kuta tahun 2026
Kutatv.Com || Mangupura. Ratusan Pemilet dan krama Desa Adat Kuta memadati Bale Peyadnyan pada anggara umanis uye (1/92026) untuk mengikuti proses memasar, negtegang lan ngingsah karya, ngadegang rare angon, ngadegang sunari, ngadegang pindekan, ngadegan guru dadi, ngadegang tapini mapakideh dan ngunggahang tirta pengalang sasih, panca cuntaka di pesisir pantai Kuta, Desa Adat Kuta, Kuta Badung.
Prosesi ini merupakan rangkaian panjang dari pelaksanaan upacara atma wedana, nyekah kurung nyatur rebah, lan upacara manusa yadnya ( mepandes / metatah )
sukra umanis menail, 11 September 2026 mendatang.
Pada prosesi memasar, pemilet dan krama desa tumpah ruah untuk dapat membeli berbagai jenis bahan pangan dan sarana persembahyangan yang dijual.Pemilet dan krama desa secara jujur dan tulus iklas untuk membayar bahan pangan dan sarana upacara yang diambilnya.Menurut penjelasan Jero Mangku I Nyoman Budi Utama, memasar atau juga dikenal sebagai pemasaran maupun pasar, tempat orang menukar barang dengan uang ataupun barang dengan barang. Dalam kaitannya dengan upacara besar keagamaan biasanya ada disebutkan memasar. Memasar itu adalah membeli kebutuhan yadnya itu sendiri.

“Dari tutur – tutur, mengapa ada pasar Betara di Desa (Betara Siwa berstana di Bale Agung) mengajarkan manusia untuk berdagang atau disebut atuku. Disanalah kita dalam Hindu ada pasar dan ada Ida Betara yang melinggih di pasar, yang disebut melanting,”jelas Jero Mangku Budi Utama.
Mangku Budi Utamapun juga mengingatkan agar setiap membeli barang kebutuhan upacara harus dipasar, karena apapun barang – barang yang mala (leteh) akan disucikan di pasar itu sendiri.
“Makanya untuk sarana upacara jangan membeli ditempat lain, harus di pasar. Karena barang – barang itu sudah disumpat oleh Ida Batara Melanting, Jadi Sang Hyang Sedana Mertha Jaya yang bertugas untuk membersihkan sarana upacara dalam hal ngewangun yadnya. Jadi persiapan untuk sarana – sarana upacaranya kita dapatkan beli di pasar agung istilahnya. Kalau tidak dapat di pasar, jadi kita melaksanakan yadnya itu dengan tidak baik, seperti memaling,,” ungkap Jero Mangku Budi Utama.
Mangku Budi Utama yang juga Pemangku Desa Adat Kuta, mengungkapkan dalam penyumpatan banten itu, ada mantram khusus yang mengiringi dalam prosesi memasar yang diucapkan oleh seorang pemangku.
“Menawi kecekel Dewa Wong Samar, olih megal acolong dalam persiapan upacaranya kembali dibersihkan untuk dipakai penyempurnaan yadnya yang kita lakukan,” ungkap Mangku Budi Utama
Sementara itu dalam prosesi negtegang lan ngingsah karya, ngadegang rare angon, ngadegang sunari, ngadegang pindekan, ngadegan guru dadi, ngadegang tapini, mapakideh dan ngunggahang tirta pengalang sasih, panca cuntaka dipuput oleh Ida Pandita Mpu Nabhe Jaya Wijayananda.
Ida Pandita menerangkan bahwa setiap Yadnya akan diawali dengan negtegan. Negtegan / negteg berasal dari kata enteg itu berarti ajeg, kokoh, pageh, sehingga dalam melaksanakan upacara yadnya diharapkan kita pageh. Dalam setiap melaksanakan Yadnya itu, akan banyak mendapatkan godaan- godaan Hal ini juga senantiasa diingatkan oleh Para Tetua di Bali, makanya setiap mulai upacara netegan, kita wajib memasang penegteg karya.
“Iraga sadar, diluar kita itu masih banyak hal – hal yang tidak bisa kita lihat yang dapat menjauhkan kita. Sehingga kita menghaturkan banten di bucu – bucu, banten penghalang sasih, banten beburon di kuburan, sehingga tidak menggangu pelaksanaan sarana upacara yang telah disiapkan,”jelas Ida Pandita Mpu.
ida pun menjelaskan bahwa ngingsah atau isah, memiliki arti kita telah memfokuskan diri, tidak boleh ada lagi hal – hal di luar yadnya yang kita pikirkan. Makanya setelah ngetegan dan ngingsah ini, tidak boleh ada upacara ngaben lagi di Desa Adat dan fokus pada satu yadnya yakni atiwa – tiwa atma wedana dan mepandes.
“Seandainya ada yang mati/ meninggal, kelayon sekar yang boleh menengok hanya satu rumah, sebelah sebelahnya saja, dan adanya jam malam dalam Bahasa bali Nyulubin,” tutur Ida Pandita Mpu.
Melalui Upacara Negtegan dan Ngingsah, seluruh pemilet dan krama desa mempersiapan diri, mengendalikan diri (Tapa Yadnya Yasa Kerthi) sehingga akhir dari Yadnya yang dilaksanakan mendapatkan hasil terbaik.
Bendesa Adat Kuta, I Komang Alit Ardana, selaku pengayah di Desa mengucapkan rasa terimakasih atas lancarnya pelaksanaan upacara hari ini.
“Usai upacara negtegan dan ngingsah hari ini, saya memohon dengan sangat kepada para pemilet dan panitia karya untuk me-yasa kerthi atas pelaksanaan dari hari ini hingga nantinya akhir dari upacara atiwa tiwa dan mepandes massal, memperoleh kerahayuan,” jelas Bendesa Alit Ardana.
Upacara Atiwa – tiwa Atma Wedana diikuti oleh 91 Sawa, dan mepandes / nyurud ayu diikuti oleh 65 orang, dilaksanakan oleh Desa Adat Kuta secara massal serta gratis.
Pada pelaksanaan Negtegan dan Ngingsah ini juga diiringi oleh santhi Desa Adat Kuta, gong jangkep
dari Br Segara Kuta, Pemedek Br Segara, Pemangku Desa, Panitia dan Serati banten, serta Pecalang Desa Adat Kuta.


