Kutatv.Com || Denpasar. 4 hari pasca kebakaran yang melanda pemukiman semi permanen di wilayah Margaya, Denpasar. Dinas Kebakaran Kota Denpasar terus berupaya melakukan tindakan pendinginan sejak peristiwa kebakaran terjadi pada selasa 31 Agustus 2026.
Asap masih mengepul dibeberapa titik, seiring angin kencang yang melanda Denpasar sejak beberapa hari lalu.
Sejumlah warga mulai membangun tenda darurat, dengan hanya beratapkan terpal merah, beralaskan tikar seadanya.
Menurut pengakuan warga korban kebakaran, Yuni asal Sumba, NTT, ia bersama anak dan suaminya untuk sementara tinggal di tenda darurat ini seiring upayanya untuk mencari tempat tinggal sementara di daerah terdekat.
“Masih cari – cari tempat tinggal, namun belum dapat sampai sekarang,”ungkap Yuni saat ditemui di lokasi kebakaran, pada Kamis (3/9/2026)
Yuni yang bekerja di sebuah tempat cuci pakaian ini, untuk sementara telah ijin kepada bos laundry untuk sementara waktu belum bisa bekerja, dan mengandalkan pemasukan dari sang suami ang bekerja sebagai sopir online.

Untuk makan sehari – hari, masih dapat dibantu dari dapur darurat yang dibangun di lokasi dekat tendanya.
Yuni menceritakan, bahwa pada saat malam kejadian, ia bersama anaknya, sempat terjebak kepulan asap dan api, karenan bangunan tempat tinggalnya yang berukuran 5X5 berada paling belakang, sehingga tidak tidak sempat menyelamatkan barang berharga maupun surat kependudukan miliknya.
“Saat kebakaran itu, mulai dari depan, kami tinggal paling belakang, sempat terjebak asap dan api. Tidak sempat menyelamatkan apapun, termasuk KTP. Ini pakaian dapat bantuan dari petugas,”jelas Yuni
Diakui Yuni, bahwa selama 3 tahun di Denpasar, tinggal disini mengontrak sebidang tanah dengan biaya 2 juta pertahun.
“kontraknya berupa lahan kosong, 2 juta pertahun, kita yang buat bangunannya,”ungkap Yuni.
Walaupun bantuan terus bergulir, namun Yuni dan Suami tetap memikirkan kesehatan sang anaknya.
“Ada bantuan selimut, tapi saya tidak dapat karena habis, hanya dapat handuk. Saya khawatir kesehatan anak, karena kan masih ada asap, dan debu juga berterbangan. Kalau tetap di tenda, takutnya anak terkena demam berdarah,” lirih Yuni
Untuk pulang kembali ke daerah asal Yuni bersama anak dan suami terbentur biaya perjalanan, dan berkeinginan lebih memilih tetap bekerja di tempatnya sekarang.
Sementara itu, garis polisi membentang di sejumlah titik titik TKP. Sehingga tidak diperkenankan memasuki area tersebut.


