Kutatv.com | Badung – Puluhan hingga ratusan ton sampah kiriman didominasi dari kayu gelondongan, batang pohon dan tercampur dengan sampah plastik masih bertumpuk seperti gunungan di sejumlah titik di pesisir pantai mulai dari pantai Kuta, Legian, Seminyak dan Kerobokan.
Menurut DPRD Badung I Wayan Puspa Negara, diprediksi gunungan sampah kayu ini akan terus meningkat dan meninggi seiring belum redanya tiupan angin Muson Barat dan letak pesisir Pantai Badung seperti lekungan teluk.
“Fenomena tahunan seiring bertiupnya angin muson barat, kita tidak tahu sampah ini darimana datangnya dan sampah yang masih mengapung di tengah laut, kemudian menepi di sepanjang pesisir pantai di Kabupaten Badung. Diprediksi jika dihitung perhari ada sekitar 200 – 250 ton sampah kiriman dan ini menjadi tanggung jawab bersama “ ujar Puspa Negara.
Fenomena sampah kiriman ini tidak hanya terjadi disepanjang pesisir pantai kabupaten Badung, namun juga terjadi di pesisir kabupaten lainnya seperti Kabupaten Tabanan, Jembrana, Denpasar.
“Secara normatif, sampah kiriman ini menjadi tanggung jawab Provinsi Bali, namun demikian masyarakat tidak boleh lepas tanggung jawab begitu saja dan harus ikut berpartisipasi dalam menjaga kebersihan pantai khususnya di Kabupaten Badung .” tambah Puspa Negara saat temui (30/1/2026) di Pantai Legian.
Sampah kiriman ini akan dibawa TPS untuk kemudian dibuang ke TPA karena tingkat kesulitannya luar biasa untuk melakukan proses pemisahan dan pemilahan serta sampah tersebut harus segera di pindahkan karena aroma yang cukup menyengat dan menganggu kenyamanan wisatawan.
“Kami tetap meminta TPA suwung ataupun TPA dimana saja, harus tetap menampung sampah kiriman karena sulit untuk memproses sampah kiriman ini. Siapa yang sanggup memilah sampah dengan kompleksitas luar biasa ini. Campuran dan berat sampah kiriman ini luar biasa menumpuk hingga 200 ton perhari, tidak ada seorangpun yang sanggup . Walaupun secara teori setiap orang mengatakan tinggal angkut dan pilah, namun tidak semudah itu.” ungkap Puspa Negara.
Teknologi dalam penangganan sampah seperti teknologi barbarick dan teknologi loader sudah ada dan tersedia.
“Namun siapa yang sanggup menjaring sampah kiriman di tengah laut dan menjamin sampah tersebut tidak menepi di pesisir pantai itu persoalannya” tambah Puspa Negara.
Penanganan sampah kiriman sejak beberapa tahun ini telah bersinergi antara elemen masyarakat, Pemkab Badung, TNI/ Polri, dan Pemerintah Provinsi Bali untuk merespon cepat upaya pengangkutan dan pembuangan sampah kiriman tersebut.(Jul/Ktv)


