Gebug Ende Tradisi Memohon Hujan Di Seraya Kian Lestari Dan Diwariskan Dari Generasi Ke Generasi


Kutatv.com || Karangasem. Sorak sorai warga menyaksikan ayunan tongkat rotan dari 2 pemain saat saling menyerang untuk mencari titik lemah lawannya. Selain menyerang, kedua pemain saling menggunakan tameng atau juga disebut gebug untuk melindungi diri dari serangan tongkat tersebut.

Inilah gebug ende khas Desa Seraya, Karangasem yang digelar pada Kamis (5/11/2026) di Lapangan Umum Ki Kopang, dalam rangka Seraya Culture Festival 2026.
Tidak hanya warga setempat, penonton dari luar daerahpun dapat ikut berpartisipasi dalam gebug ende ini. Tidak hanya sekali, merekapun dapat ikut serta berkali – kali, seperti diungkap oleh I Gede Darmawan seorang pelajar asal Singaraja, Buleleng yang sedang bersekolah di Seraya Karangasem. Tidak ada Teknik khusus, yang penting berani untuk berpartisipasi.

“Udah sering, hanya lindungi kepala saja, lumayan sakit, namun sudah biasa,” ungkap Darmawan
Hal serupa juga diutarakan oleh Wirawan, usai berpartisipasi gebug ende kali ini. Suara gambelan mengalun seolah memberikan semangat dan tenaga ekstra. Walaupun tubuh memar terkena ayunan tongkat rotan, tak menyurutkan semangatnya.
“Jangan pernah menyerah,”ujar Wirawan

Sementara itu, warga bernama Eka yang baru pertamakali berpartisipasi dalam gebug ende, mendapat kesan mendalam usai turun dari panggung.
“Ini pertamakali saya ikut tradisi gebug ende,”jelas Eka.

Gebug ende di Desa Seraya begitu di sakralkan, karena dipercaya mampu mendatangkan hujan. Untuk memainkan gebug ende, setiap pemain wajib menggenakan kamen dengan saput poleng, dan bertelanjang dada, serta menggenakan udeng.

Tidak hanya melibatkan Orang tua dan para pemuda, dalam melestarikan gebug ende juga melibatkan anak – anak dengan memperkenalkan gebug ende sejak dini.
Menurut Kelian Desa Adat Seraya, I Made Salin, di Desa Seraya perkembangan gebug ende cukup pesat, dimana gebug ende di Desa Seraya terbagi dua yakni gebug ende tradisi dan gebug ende yang bersifat sakral, hanya dipentaskan saat upacara keagamaan di Desa Seraya untuk memohon hujan.

“Tujuan untuk melstarikan budaya dan tradisi kami di Seraya, tetua kami dahulu sebagai wahana untuk memohon hujan, karena wilayah Desa Seraya merupakan wilayah kering. Sembari menunggu hujan, tanah sudah dibajak maka ditunggulah hujan dengan cara melakukan gebug ende. Apabila dalam gebug ende itu ada salah satu kena kepala keluar darah itu dipercaya tetua kami hujan akan segera turun,” jelas Salin

Gebug ende memiliki 2 unsur yakni religious dan unsur ketangkasan, serta nilai sportivitas yakni tidak ada istilah permusuhan.

Diakui Made Salin, perkembangan gebug ende di Desa Seraya mengalami pasang surut untuk itu Ia mengajak seluruh krama adat dan anak – anak untuk ikut melestarikan gebug ende ini.

“Kedepan warisan leluhur kami, akan tetap kami warisi dan juga kami mohon kepada krama adat dan anak anak kami yang muda belia untuk tetap melestarikan dan untuk ikut megebug,” harap Salin

Gebug ende berasal dari kata gebug atau memukul dengan menggunakan rotan sebagai pemukulnya dan ende berarti perisai atau tameng penangkis yang terbuat dari kulit kerbau / kulit sapi kering.

Sedangkan dalam mengiringi gebug ende, menggunakan instrument gambelan yang klasik / natural. Bila gebug itu digunakan saat pawai Hut Jembrana atau Karangasem, maupun Pesta Kesenian Bali kolaborasi, tidak hanya menggunakan yang tabuhan gambelan yang natural ini pasti diisi dengan baleganjur agar lebih meriah.

Berita Terkait

APBD Jembrana 2027 Disahkan, Bupati Kembang Tekankan ...
Bupati Satria Pimpin Rapat, Tekankan Optimalisasi ...
Puluhan Petani Gagal Panen di Jembrana ...
Festival Seni Budaya Badung XV Tahun 2026