Kutatv.Com || Mangupura. Puluhan peserta mepandes dengan busana putih kuning,telah berdatangan ke Peyadnyan untuk melaksanakan prosesi mepandes secara massal pada Jumat (11/ 9/ 2026) yang digelar oleh Desa Adat Kuta, bertempat di Pesisir Pantai Kuta, Kabupaten Badung.
Upacara Manusa Yadnya mepandes diikuti oleh 69 peserta, dan merupakan bagian dari acara puncak Upacara Atiwa – Tiwa Atma Wedana.
Prosesi mepandes dilakukan di bale mepandes, dibuat khusus untuk pelaksanaan mepandes. Ada 6 tempat tidur yang disiapkan dan lengkapi dengan sarana mepandes oleh panitia Atiwa Tiwa Atma Wedana, seperti kain selimut beraksara suci, Kasur, bantal, bungkak gading, kuangen, dan meja sanging lengkap dengan peralatan sanging.
Sebelum mepandes, terlebih dahulu dilaksanakan upacara ngekeb dipimpin oleh Pemangku Kahyangan Tiga dan diikuti oleh seluruh peserta mepandes. Dilanjutkan dengan ngungkab lawing.
Jero Mangku I Nyoman Budi Utama menjelaskan bawah peserta mepandes adalah mereka yang sudah dewasa. Mepandes terkait dengan tutur Kala Tatwa dan Kala Pati. Dalam Kala Tatwa dimana Sanghyang Kala mencari keberadaan Orangtuanya, oleh Ida Betara Siwa meminta agar Sanghyang Kala memotong terlebih dahulu taringnya sehingga baru dapat menemui orangtuannya.
“Setelah taring Betara Kala patah, maka Ida Betara Siwa mengakui bahwa Sanghyag Kala sebagai Ramareka Sanghyang Siwa,”jelas Mangku Budi Utama.
Setiap peserta mepandes, dengan didampingi oleh orangtua dan keluarganya, naik ke bale mepandes untuk melaksanakan prosesi mepandes. Setiap peserta mepandes akan dikikir 2 gigi taring atas (kanan dan kiri) serta 4 gigi seri bagian atas. Prosesi memotong gigi inilah sebagai lambang pengendalian diri terhadap 6 sifat buruk (musuh dalam diri manusia) disebut Sad Ripu.
Untuk kelancaran prosesi mepandes kali ini, melibatkan sejumlah pemangku sanging, yang sebelumnya telah mendapat pengetahuan dan tata titi mepandes ang baik dan benar sesuai dengan ajaran agama Hindu
Bendesa Adat Kuta, I Komang Alit Ardana mengemukakan bahwa seluruh prosesi mepandes dilakukan oleh pemangku sanging yang berasal dari Desa Adat Kuta
“Ini luar biasa, ini merupakan torehan sejarah. Tidak main – main Desa Adat Kuta sudah memiliki sanging, semoga kedepannya menjadi sanging professional di Kuta, ini semua produk dalam desa,” ungkap Bendesa Alit Ardana
Alit Ardana menambahkan usai mepandes, seluruh wajah peserta berseri – seri dan berterimakasih telah mengikuti prosesi mepandes hingga hari ini, dan mulai hari ini telah menginjak usia remaja.
“Saya meminta kepada orangtua selaku guru rupakanya, setelah mejaya jaya, baru boleh mengganti busana mepandesnya,” ujar Alit Ardana
Usai seluruh peserta mepandes, dilanjutkan dengan mejaya jaya dipuput oleh 3 orang Sulinggih (Tri Sadhaka) yakni Ida Pedanda Griya Telabah, Ida Pandita Mpu Wajra Ananda (Ida Buda), Ida Bhagawan Griya Agung Karang Semaja
Sehari sebelum mepandes pada Kamis (10/ 9 2026), seluruh peserta mepandes telah menjalani prosesi upacara mendengen -dengen yang dipuput oleh ida pandita mpu nabhe jaya wijayananda


